Cara Salaf Damaikan Sengketa Pasutri mengangkat berbagai teladan dari generasi salaf dalam membantu menyelesaikan persoalan rumah tangga. Buku ini menunjukkan bahwa pihak ketiga seperti teman, mertua, maupun pemimpin dapat berperan dalam mendamaikan pasangan yang sedang berselisih, selama dilakukan dengan cara yang bijaksana. Salah satu contohnya adalah Salman al-Farisi yang membantu memperbaiki hubungan Abu Darda’ dan istrinya dengan mengingatkan pentingnya memberikan hak kepada Allah, diri sendiri, dan keluarga secara seimbang.
Buku ini juga menghadirkan sikap Umar bin Khaththab dan Abu Bakar dalam memberikan nasihat kepada anggota keluarga mereka yang menghadapi persoalan rumah tangga. Kesabaran, pengorbanan, qana’ah, serta kemampuan melihat kebaikan pasangan menjadi bagian penting dalam menjaga keutuhan keluarga. Pesan yang ditekankan adalah agar pasangan tidak hanya melihat kekurangan satu sama lain, tetapi juga mengingat kebaikan yang ada pada pasangannya dan bersabar dalam menghadapi berbagai keadaan rumah tangga.
Selain itu, buku ini menjelaskan pentingnya memahami siapa yang sebenarnya terzalimi dalam sebuah sengketa dan bagaimana pihak yang memiliki kewenangan dapat membantu menyelesaikannya. Kisah Umar bin Khaththab dan Ka’b bin Sur menunjukkan pentingnya memahami persoalan secara mendalam sebelum memberikan keputusan, sedangkan kisah Mu’awiyah memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin menyelesaikan sengketa hak asuh dengan mendengarkan kedua pihak dan menjelaskan hukum syariat. Melalui berbagai kisah tersebut, pembaca diajak mengambil pelajaran tentang pentingnya keadilan, kesabaran, nasihat yang tepat, serta keterlibatan pihak ketiga yang bijaksana dalam mendamaikan perselisihan pasutri.